Kamis, 25 November 2010

PERSONAL BRANDING

personal branding adalah proses dimana seseorang dan karirnya dimerekan sebagai satu brand. Brand sendiri dapat diartikan sebagai penyimbolan segala sesuatu yang berhubungan dengan informasi mengenai suatu perusahaan, produk atau jasa (sumber wikipedia). Layaknya branding suatu produk, personal branding bertujuan untuk membangun asosiasi dan harapan konsumen terhadap diri kita. Kalau selama ini yang kita tau jualan itu produk atau servis (hard selling), maka personal branding adalah ‘menjual’ diri kita (ups bukan psk lho..).
Blog memang sarana yang tepat untuk membangun branding seseorang secara online. Disini yang dijual adalah
1. feature selling, menjual apa yang ada di dirinya.
2. benefit selling, memberikan manfaat yang akan diterima oleh pembaca blognya.
3. Dan terakhir memberikan solusi kepada para membernya, disebut sebagai solution selling.
Feature selling, benefit selling dan solution selling disebut dengan soft selling.
Dalam melakukan soft selling tersebut kita tidak mendapatkan hasil secara materi di depan langsung. Akan tetapi kita akan dapat hasil secara tidak langsung, bisa dari belakang, dari samping dan dari penjuru yang kita tidak ketahui awalnya. Dari menjual soft selling tersebut, secara efek domino, apa pun yang kita jual akan turut bertumbuh. Apa pun yang kita tawarkan kepada para pembaca blog kita, yang sudah memperoleh soft selling kita tersebut, akan turut dibelinya. (dari blog tangandiatas).
Menurut Chris Brogan beberapa hal yang harus kita ingat dalam melakukan personal branding online adalah adanya kemauan yang kuat dalam diri kita untuk melakukan personal branding, menjadi diri sendiri, tawarkan kelebihan diri kita, bikin arah tujuan dan capaian personal branding, lakukan percakapan dengan pembaca blog kita, lakukan inovasi, bertanggung jawab dengan apa yang kita lakukan, dan buka wawasan.
Berikut beberapa tips dari Pak Hermawan Kartajaya dalam bukunya “Marketing Yourself” (dari blog tangandiatas) untuk kita yang ingin membangun merek diri kita sendiri :
  1. Jangan anggap nama Anda cuma sekedar nama. Nama itu harus diketahui oleh orang banyak dan orang harus mengerti asosiasi apa yang melekat pada nama kita.
  2. Build your own brand, Anda punya kewajiban untuk membangun merek anda sendiri. Walau awalnya adalah secara kecil-kecilan, sehingga makin banyak orang yang mengenal anda.
  3. Jaga nama baik anda. Mungkin anda rugi dalam bentuk materi, itu tidak apa-apa asal jangan sampai nama anda jatuh. Because brand is value.
Di Indonesia memang belum banyak orang yang melakukan personal branding online. Kalo ada yang ingin melihat contoh personal branding, blognya pak Nukman bisa dijadikan referensi. Dari luar negeri blognya Peter Montoya bisa dilihat. Sekedar info Peter Montoya sangat concern di bidang personal branding, beliau juga sudah mengahasilkan buku berjudul The Personal Branding Phenomenon.
So.. Mari kita go blog, kita tidak hanya bisa melakukan marketing ourself, disamping itu kita dapat memenangkan market share plus mind share dan heart share.

Oleh : Dr Asto Subroto

Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar nama Inul dan dr. Boyke? Tentu tidak sulit bagi kita untuk menjelaskan siapa mereka hanya dalam beberapa detik. Inul dikenal sebagai salah satu ikon penyanyi dangdut dan dr. Boyke merupakan pakar kebidanan dan ahli kandungan.

Mengapa kita mudah sekali mengingat identitas mereka? Jawabannya ada pada ciri khas dan perbedaan yang kuat dalam diri mereka dibanding yang lainnya. Misalnya saja Inul. Jumlah penyanyi dangdut banyak sekali, tetapi Inul mampu menarik perhatian orang dengan diferensiasi dan ciri khasnya, yaitu goyang ngebor. Nah, ciri khas dan perbedaan yang kuat itu ternyata mampu menciptakan personal branding bagi Inul.

Napoleon Hill, penulis dan konsultan bisnis terkenal, pernah mengatakan bahwa yang dibeli konsumen adalah ide dan kepribadian Anda, jauh sebelum produk atau layanan Anda. Ini berarti, kesuksesan bisnis sangat didukung oleh personal branding dan cara Anda memarketingkan diri Anda.

Lalu, apa sebenarnya personal branding itu? Dan apa keuntungan kita memiliki personal branding yang kuat?

Definisi
Personal branding bukan merupakan pilihan. Karena sebenarnya, setiap orang atau perusahaan telah memiliki personal branding. Hanya saja, seberapa besar kekuatan personal branding itu mampu terekam kuat di benak orang lain. Juga, bagaimana dampak personal personal branding itu, positif atau negatif.

Timothy P. O'Brien, penulis buku The Power of Branding, menjelaskan bahwa personal branding merupakan identitas pribadi yang mampu menciptakan sebuah respon emosional terhadap orang lain mengenai kualitas dan nilai yang dimiliki orang tersebut.
Sebagai contoh, ketika Anda berpikir tentang dr. Boyke, apa yang terlintas dalam benak Anda? Seberapa besar value dan kualitasnya menurut Anda? Bagaimana dengan tingkat kepercayaan dan kredibiltas Anda terhadap dr. Boyke? Coba bandingkan dengan dokter lainnya. Maka akan terlihat diferensiasi yang kuat antara dr. Boyke dengan dokter lainnya.
Anda melihat dr. Boyke sebagai seorang dokter yang selalu semangat dan cerdas dalam menjelaskan sesuatu kepada orang lain. Bahkan selalu aktif dalam sosialisasi ilmunya ke masyarakat. Ini berbeda dengan kebanyakan dokter yang cenderung pasif, karena hanya akan menjawab ketika ada keluhan atau pertanyaan dari pasien.

Nah, ciri khas seperti aktif, selalu semangat, dan cerdas itu yang akhirnya terekam di benak masyarakat sehingga menciptakan personal branding yang kuat bagi dr. Boyke. Alhasil, ketika seseorang membutuhkan informasi mengenai kebidanan dan kandungan, maka yang pertama diingat atau Top of Mind (TOM) adalah dr. Boyke.

Keuntungan
Ini berarti, keuntungan terbesar dari personal branding yang kuat adalah TOM, yaitu tingkatan tertinggi memori seseorang terhadap sesuatu.
TOM ini menjadi sebuah variabel yang sangat penting di dunia bisnis. Mengapa? Karena ketika produk dan perusahaan Anda yang pertama kali diingat konsumen, maka sangat mungkin konsumen akan membeli produk Anda pertama kali. Ini berarti, produk Anda dapat menjadi pemenang. Sebuah impian yang selalu dicita-citakan pelaku bisnis.

Lalu, bagaimana membangun personal branding yang kuat?

Proses Membangun
Satu hal terpenting dalam membangun personal branding adalah memahami bahwa apa yang Anda pikirkan tentang diri Anda hampir tidak relevan. Al ries dan laura Ries, dalam bukunya 22 Immutable Laws of Branding, mendefinisikan proses branding sebagai sebuah umpan balik dari yang ada dalam pikiran orang lain. Karena, branding adalah semua hal yang orang lain pikirkan tentang Anda.

Jadi, untuk membangun personal branding, Anda dapat memulainya dengan mengidentifikasi sebuah emosi yang ingin Anda ciptakan dalam pikiran orang lain atau konsumen Anda. Kemudian, temukan kata atau frase yang dapat mencerminkan emosi tersebut. Dan terakhir, Anda harus konsisten dalam berperilaku, promosi, dan menggunakan kata yang Anda gunakan.

Mari kita lihat Mercedes.

Mercedes ingin konsumennya merasa special ketika memilikinya dibandingkan ketika memiliki mobil lain. Untuk itu, Mercedes memilih kata prestige atau sangat berkelas sebagai frase yang mampu mengasosiasikan dengan produknya. Hal itu terlihat pada kualitas produk Mercedes termasuk konsistensinya pada program iklan, customer service, dan program lainnya yang memang diarahkan untuk mewujudkan Mercedes yang prestige.
Proses tersebut sama ketika Anda ingin mewujudkan personal branding. Pertama, memilih emosi, kedua memilih kata atau frase yang tepat, dan terakhir, konsisten pada setiap aktivitas yang dijalankan.
Lalu, siapa yang membutuhkan personal branding. Pada saat ini, dimana kompetisi semakin tinggi, maka setiap orang membutuhkan personal branding yang kuat. Apakah Anda seorang dokter, artis, pegawai swasta, atau bahkan politikus.

Kalau kita amati, saat ini sudah banyak sekali politikus yang memanfaatkan personal branding untuk menarik massa. Misalnya saja dalam pemilihan kepala daerah akhir-akhir ini.

Berbagai program telah dijalankan. Seperti ketika seorang politikus melakukan promosi anti narkoba jauh sebelum waktu kampanye berlangsung. Hal ini jelas ditujukan untuk meningkatkan personal branding di masa-masa awal. Lalu, di televisi kita juga bisa melihat berbagai iklan yang dilakukan oleh para politikus dengan memanfaatkan hari kebangkitan bangsa. Ini bukti bahwa semakin banyak elemen masyarakat yang memahami pentingnya personal branding sebagai bagian dari proses dalam mewujudkan mimpinya.

Bagaimana dengan Anda?

• 8 langkah menciptakan personal branding
1. Menggali potensi diri sendiri
2. Menentukan mimpi & cara mewujudkan
3. Target audiens yang dituju
4. Hambatan Internal & External & Strategi mengatasi hambatan
5. Pendukung Personal Branding
6. Rahasia Personal Branding
7. Memantapkan Personal Branding
8. Membuat action plan


Personal Branding
Personal Branding adalah bisa dikatakan segala sesuatu tentang merk yang berhubungan dengan kita-nya (person), ya bisa dikatakan merk pribadilah… agak maksa seh ngartiinnya memang… Jadi kita lakukan segala sesuatu seperti membangun brand, prosmosi, dsb supaya kita dikenal dunia luas, sehingga orang lain melihat kita-nya, bukan produk yang kita bawa. Misalnya yang sudah bisa membangun Personal Branding adalah Bob Sadino, Tung Desem W, Robert Tysaki, dsb, entah ada yang pro dan kontra, yang jelas mereka telah berhasil membuat kita semua seperti telah mengenal mereka.
So, mari kita bahas secara umum.
Dari ketiga branding itu semuanya sangat bagus apabila kita bangun bersama-sama. Idealnya sih harus di bangun bersama-sama seperti Toyota dengan Innovanya, atau Sonny dengan TV Flatnya, namun itu tidak mudah dan membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit dan team yang sangat solid. Jika kita hanya punya resource yang terbatas, maka paling mudah dibangun adalah Personal Branding. Kalo Produk Branding, jika produk kita sudah ketinggalan jaman maka brand itu akan hilang, sebagai contoh misalnya dulu ada Astrea Prima, Ada Honda Legenda, dulu waktu saya SMP, itu terkenal banget. Tapi sekarang dah tinggal sejarah. Jadi benar, jika kita tidak ada innovasi produk, maka sekuat apapun brand yang kita bangun ke Produk kita, pasti produk kita itu akan mati.
Kalo Coorporate branding sangat bagus, cuman harus membutuhkan dana yang besar, dan team yang sangat militan.
Nah, kalo personal Branding lebih sederhana tapi efeknya sangat luar biasa. Karena hanya kita yang bisa membangun, bisa menggunakan team, atau bahkan bisa single fighter sekalipun dan umur Personal Branding realtif lebih lama dari Produk Branding. Paling tidak ya sepanjang kita hidup lah, jika kita mati toh kita sudah tidak butuh Branding lagi :D
Sebelum kita bangun Personal Branding, kita tentukan dulu mo ke sisi mana neh Brand kita tar. Mo jadi preman yang sangat ditakuti, mo jadi enterpreneur yang mengusai banyak hal, pengen di kenal sebagai penyedia produk-produk yang bermutu tinggi dan berkualitas serta harga murah, atau yang lain. Na selanjutnya tinggal kita mencari resource yang sesuai dengan tujuan kita. Kemudian kita konsisten dalam menjalaninya, sesuai dengan path untuk menuju branding kita nanti, jaga jangan sampai menyimpang dari pakem.
Karena kita lihat ada beberapa yang kurang tepat, misalnya saja, saya di lingkungan saya terkenal dengan Yoyox Rabbani. Itu sebenere Produk Branding bukan Personal Branding. Padahal saya dan Rabbani hanya terikat kontrak kerja selama 5 tahun, bisa jadi nanti tidak bisa diperpanjang kontraknya. Dan jika hal itu terjadi, maka Yoyox Rabbani akan hilang, dan saya harus membangun dari awal lagi untuk membangun brand Yoyox apa gitu. So sehingga saya punya cita-cita ingin membangun Brand Yoyox yang punya motto; apapun bisnis anda, Yoyox-lah orangnya…. :D .


Apa kesamaan antara Hermawan Kertajaya, Deddy Corbuzier, Dr. Boyke, dan Inul Daratista? Mereka memiliki personal branding yang kuat. Kemudian, apa yang ada dalam fikiran kita ketika mendengar kata branding? Saya yakin betul bahwa hanya dalam beberapa detik akan muncul di kepala kita sekian puluh kata atau imaji yang memiliki kedekatan asosiasi dengan kata branding. Perusahaan besar, korporasi, periklanan, logo, mahal, dan sederet asosiasi lainnya. Dalam proses brainstorming semua kata atau objek yang muncul di atas adalah wajar. Namun dalam proses pengkajian komunikasi periklanan, beberapa kata di atas bisa jadi ada yang perlu dihilangkan karena tidak bisa masuk dalam kategori branding.

Branding atau sering juga disebut sebagai brand building banyak dikaitkan dengan upaya sebuah perusahaan untuk membangun image. Image yang dimaksud tentunya harus memiliki nilai benefit di dalam memberikan sebuah persepsi tertentu yang umumnya bersifat positif. Kekuatan branding yang luar biasa dipandang sangat berpengaruh terhadap suksesnya bisnis sebuah perusahaan.

Dalam bukunya, The Brand Called You, Peter Montoya bersama Tim Vandehey menampilkan sebuah karya observasi terhadap sebuah aspek advertising yang banyak dilupakan orang. Bisnis konvensional dianggap kurang dalam memandang perlunya sebuah Personal Branding dengan alasan bahwa corporate branding sudah cukup mahal, apalagi jika ditambah dengan personal branding.

Dalam buku tersebut, Peter Montoya mengungkapkan begitu esensialnya peran seorang individu, karena semua manusia memiliki personal image, seperti cita rasa humor, tatanan rambut, cara berpakaian, makanan favorit dan lain sebagainya. Secara kolektif, sifat-sifat di atas akan membentuk gambaran mental diri kita. Hal ini sangat berbeda dengan personal branding di mana dia akan mencari tahu bagaimana cara paling jitu menciptakan sebuah persepsi positif tertentu bagi klien-klien prospektif. Personal Branding tidak harus direlasikan dengan bos korporasi karena Montoya juga memasukkan kategori lain seperti bidang profesi (dokter, pengacara, arsitek dll) ke dalamnya.

Personal Branding dipandang memiliki daya magis sebagai salah satu piranti penentu suksesnya sebuah bisnis. Dia adalah aspek alami tentang bagaimana seseorang mengevaluasi figure yang akan dia ajak kerja sama. Semua akan berjalan secara natural. Hanya tinggal bagaimana seseorang membangun personal branding-nya secara tepat. Akan ada banyak alat bantu yang diperlukan untuk membantu proses akselerasi pembentukan personal branding kita.

Jika kita membuka buku Marketing Yourself karya Hermawan Kartajaya, seseorang yang sudah berhasil menjual dirinya maka orang tersebut telah berhasil menjual apa yang ada di dalam dirinya (feature selling). Apa yang dijual bukanlah hard selling, seperti menaruh barang di toko kemudian laku dibeli orang, melainkan kegiatan soft selling. Dalam melakukan soft selling kita tidak mendapatkan hasil secara materi di depan langsung. Akan tetapi kita akan dapat hasil secara tidak langsung, bisa dari belakang, dari samping dan dari penjuru yang kita tidak ketahui awalnya. Secara efek domino, bisnis kita pun akan turut bertumbuh. Apa pun yang kita tawarkan kepada para customer kita, yang sudah memperoleh soft selling kita tersebut, akan turut dibelinya.

Hermawan Kartajaya juga memberikan tips bagi kita yang ingin membangun merek diri kita sendiri, yaitu “Jangan anggap nama Anda cuma sekedar nama. Nama itu harus diketahui oleh orang banyak dan orang harus mengerti asosiasi apa yang melekat pada nama kita”.

Build your own brand, kita punya kewajiban untuk membangun merek kita sendiri. Walau awalnya adalah secara kecil-kecilan, namun jika kita kembangkan dan jaga nama baik kita, makin lama makin banyak orang yang mengenal kita. Mungkin awalnya kita rugi dalam bentuk materi, itu tidak apa-apa asal jangan sampai nama kita jatuh. Because brand is value. Dengan melakukan marketing yourself, kita bukan cuma memenangkan market share, tapi juga memenangkan mind share dan heart share.

Meletakkan hal paling mendasar pada personal brand adalah penting. Intinya adalah bahwa kita harus berbeda dari kompetitor kita. Diferensiasi adalah krusial. Kita harus mempersempit bidang keahlian kita. Jangan sampai terlibat pada bidang keahlian yang terlalu luas. Ketidakfokusan terhadap bidang yang kita tekuni bisa menjadi bumerang bagi diri kita sendiri.


Bagaimana membangun Personal Branding

Setiap orang akan dinilai oleh orang lain. Baik itu dari penampilan fisik, kepribadian maupun karakter. Dan ini lah yang akan melekat pada kita, yang akhirnya digunakan oleh orang lain men-cap bagaimana diri kita.
Sangat perlu bagi kita mempersiapkan diri untuk mempunyai personal branding atau "merk diri" yang positif. Karena hal ini akan menjadikan diri kita pantas untuk dihargai, dimiliki bahkan untuk disayangi orang lain. Bahkan mungkin 'dibeli' oleh orang lain.

Dalam kehidupan ini kita akan selalu melakukan kegiatan-kegiatan yang terus kita lakukan selama hidup kita. Dari kegiatan-kegiatan inilah menyebabkan kita mempunyai suatu kebiasaan. Bila kebiasaan-kebiasaan ini terus dipelihara akan melahirkan sebuah karakter dimana karakter inilah yang menjadi salah satu penilaian orang lain terhadap diri kita.

Bagaimana kita berpenampilan pun akan mencerminkan siapa diri kita, oleh karena itu kita pun perlu menjaga penampilan kita. Penampilan, kepribadian dan karakter merupakan elemen pembentuk Personal Branding. Personal Branding yang unik, artinya tidak dimiliki oleh banyak orang, cenderung mempunyai daya jual yang tinggi.

Personal Branding berbeda dengan titel atau gelar yang kita punya, karena Personal Branding tak semudah kita mendapatkan ijazah atau gelar. Personal Branding diraih dengan perjuangan yang terus menerus dari waktu ke waktu. Banyak dari kita menilai orang yang berhasil karena memiliki Personal Branding yang bagus, tetapi jarang dari kita mengetahui perjuangannya dalam memperoleh Personal Branding itu.

Tukul Arwana, misalnya. Dia tidak mempunyai latar pendidikan yang bagus, tapi honor dia dalam sekali tampil bisa mencapai puluhan juta rupiah. Banyak orang yang bilang dia mempunyai bakat yang terpendam. Atau sebagian orang menganggap Tukul mempunyai keberuntungan yang bagus. Tapi banyak dari kita tidak tahu apa yang telah dipersiapkan oleh Tukul selama bertahun-tahun, banyak dari kita tidak tahu kebiasaan-kebiasaan apa yang dilakukannya.
Keberuntungan adalah bertemunya 'persiapan' dan 'kesempatan'. Lakukan persiapan-persiapannya maka kesempatan akan menjumpai kita. Jika keduanya bertemu, maka keberhasilan menjadi milik kita.


Strategi Membangun Personal Branding

Montoya dan Tim Vandehey dalam bukunya The Brand Call You mengulas tuntas strategi dalam menggali brand kita, yaitu :
1. Apa yang membuat kita berbeda?
Mulailah Anda memikirkan dan mempersepsikan diri Anda secara berbeda. Kesampingkan atribut yang menempel pada diri: jabatan, titel, atau institusi Anda bekerja. Hari ini Anda adalah brand. Tulislah keunikan, personality, dan persepsi diri Anda pada secarik kertas.

2. Brand Assessment.
Istilah ini sering digunakan perusahaan-perusahaan untuk membandingkan brand-nya dengan perusahaan lain. Demikian halnya dengan personal brand, kita hendaknya membandingkan dengan kompetitor kita. Apa yang kita miliki dan kompetitor kita tidak.

3. Fokus melakukan yang terbaik yang dapat kita lakukan.
Tanyakan pada diri sendiri. Sebagai apa dan seperti apa kita ingin dikenal? Sebagai pengusaha fashion? Tipe pekerja keras atau easy going?

4. Publikasikan diri kita.
Tak ada batasan cara untuk memasarkan brand kita dan meningkatkan profil pribadi kita. Kita dapat mencoba berbagai macam cara untuk membuat diri kita terlihat oleh lingkungan kita, misalnya dengan mengambil proyek baru dalam sebuah organisasi, tunjukkan kemampuan kita atau ambil proyek yang memungkinkan kita bertemu orang baru yang akan menyebarkan pendapat positif tentang diri kita.

Membangun persepsi adalah hal yang krusial dan intinya kita harus berbeda dengan kompetitor kita. Kunci dari personal branding adalah word-of-mouth marketing dan juga idea-virus-marketing. Jaringan kontak dengan teman, kolega, klien dan klien terdahulu, sangat signifikan dalam personal branding yang sedang kita bangun.


Penutup

Pernahkah kita menanyakan pada diri sendiri, bagaimana seseorang bisa dengan sangat mudah dikenal dan diingat oleh orang lain sebagai pribadi yang unik dan bersahaja? Sementara banyak orang lainnya, dengan sangat mudah bisa terlupakan dari ingatan?

Membangun citra membutuhkan waktu dan usaha yang serius, Personal Branding dapat dibangun jika orang tersebut memiliki pemikiran terbuka dan mau berubah. Semakin detail usaha yang dilakukan hasilnya akan semakin baik, Termasuk merubah cara mendengar, berbicara, berpakaian, body language dan sebagainya. Hal ini bisa dimulai dari mengamati orang lain, tokoh yang tepat untuk diasosiasikan.

Apakah semua orang bisa membentuk Personal Branding sendiri? Bisa saja, asal mampu jujur dalam mengenali kelemahan, keunggulan dan tujuan dirinya. Umumnya seseorang terlalu dekat melihat dirinya dengan kacamata sendiri sehingga tidak dapat melihat sisi lain dari perspektif berbeda. Pendapatnya terlalu subyektif atau tidak jujur. Orang boleh berpendapat apa saja tentang diri sendiri, tapi persepsi dari orang lainlah yang menentukan brand nya.



Dalam dunia bisnis, merek merupakan persepsi atau emosi yang dipertahankan dan dipelihara oleh para pembeli atau calon pembeli yang melukiskan pengalaman yang berhubungan dengan persoalan menjalankan bisnis-bisnis bersama sebuah organisasi atau memakai produk atau jasa-jasanya. Adapun dalam konteks pribadi merek Anda merupakan suatu persepsi atau emosi yang dipertahankan oleh orang lain yang melukiskan pengalamannya secara menyeluruh ketika berhubungan dengan anda. [David McNally, Karl D. Speak]. Oleh karenanya, mengkonstruksi diri untuk menciptakan persepsi yang kita inginkan menjadi sangat penting dilakukan.
Membangun personal brand senyatanya membutuhkan cukup banyak komponen, diantaranya adalah kompetensi, nilai, gaya dan sebagainya. Namun hal yang paling penting dalam membangun citra diri ini, sesungguhnya sangat ditentukan oleh keinginan untuk menjadi diri sendiri yang sebenarnya. Citra diri yang khas, relevan (sesuai) dan konsisten, yang dari itu seorang Rizal Malarangeng berbeda dengan Andi Malarangeng. Demikian juga Bey Arifin (seorang ulama besar) dengan Bey Laspriana (calon orang besar he..he..amin !).
Meminjam konsepnya Hermawan, langkah awal dalam membangun citra diri ini adalah dengan membangun positioning-diferensiasi-brand atau yang lebih dikenal dengan konsep segitiga PDB. Pertama positioning, yakni bagaimana Anda mampu secara tepat memposisikan diri Anda di benak pelanggan atau target pasar. Elemen pertama ini harus ditentukan agar Anda memiliki identitas yang jelas di benak orang lain.
Kedua adalah diferensiasi bagaimana Anda menampilkan perbedaan yang khas, unik dan kokoh hingga dapat terbedakan dengan orang lain meski dengan orang yang mirip sekalipun dengan Anda (kembar). Diferensiasi yang kokoh akan memperkuat positioning kita. Sedang yang ketiga adalah branding, yaitu bagaimana Anda membangun ekuitas merek diri Anda secara berkelanjutan.
Positioning yang didukung oleh diferensiasi yang kuat akan menghasilkan brand integrity yang kuat pula. Brand integrity yang kuat akan menghasilkan brand image yang kuat. Dan pada akhirnya brand image yang kuat akan menguatkan positioning yang telah kita ciptakan sebelumnya. Bila proses ini berlangsung dengan baik, maka ini akan menciptakan apa yang disebut dengan ‘self reinforcing mechanism’ atau ‘proses penguatan secara terus menerus’.


Ok. Anda sekarang sudah paham pentingnya melakukan personal branding. Sekarang kita ungkap caranya bagaimana melakukan branding di Facebook.
  1. Buat profil anda merefleksikan brand anda. Misalkan anda ingin melakukan branding sebagai seorang konsultan profesional, pastikan profil facebook anda merefleksikan citra tersebut. Cantumkan hal-hal yang terkait dengan profesi anda.
  2. Pasang foto yang sesuai. Kalau anda ingin membranding diri anda sebagai seorang profesional, pasang foto yang menunjukkan anda sosok profesional.
  3. Buat username facebook yang singkat. Contoh seperti http://www.facebook.com/jokosusilo pastinya jauh lebih baik dibandingkan url yang panjangnya seperti http://www.facebook.com/profile.php?id=123456789 bukan?
    Untuk cara membuat username yang singkat bisa anda baca
    babeh.net.
  4. Update status sesuai brand anda. Anda bisa update status yang terkait branding. Misalnya update status soal proyek yang sedang anda kerjakan, atau soal seminar yang sedang anda isi, atau mungkin tentang perkembangan bisnis internet anda.
  5. Pilih grup dan friend secara bijak. Teman dan grup yang anda ikuti adalah refleksi dari anda. Kalau grup yang anda ikuti baik, anda pun akan dipandang baik. Kalau dipandang buruk, anda ikut tersangkut buruk.
  6. Lakukan tagging dan sharing. Baik dalam update status berupa teks, foto, atau video. Namun jangan sembarangan melakukannya. Pastikan hanya pilih orang yang sesuai atau terkait hal yang anda tag-kan.
  7. Klasifikasikan teman-teman anda. Biar tidak campur aduk, anda bisa klasifikasikan teman-teman anda. misalnya sebagai hubungan pertemanan, hubungan keluarga, hubungan profesional, dan lainnya.
    Caranya:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar